KEMAMPUAN
DALAM KETERAMPILAN
MENGENAI
OKULASI BUNGA KERTAS (BOUGENVILLE)
PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS XI
DI SLB
NEGERI BUDI UTAMA KOTA CIREBON
Dr.Astati, M.Pd
Euis Nani
Mulyati, M.Pd
GAOS
ABSTRAK
Pembelajaran keterampilan diharapkan dapat mengembangkan potensi
anak tunagrahita ringan secara optimal. Melalui
pembelajaran keterampilan diharapkan siswa dapat menjadi mandiri, kreatif tidak bergantung pada orang lain dan mempunyai
tanggung jawab.Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui kemampuan anak tunagrahita dalam keterampilan
mengenai okulasi bunga kertas (Bougenville).
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Data
dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa anak tunagrahita ringan mampu mengokulasi bunga kertas (Bougenville),
tetapi ada sebagian anak yang
mengalami kesulitan dalam membedakan alat, bahan, membuat jendela
okulasi, mengiris mata entres, mengikat mata entres pada indukan, menata dan
menyimpan hasil okulasi di taman sekolah untuk
pemasaran produk sehingga membutuhkan latihan yang rutin. Peneliti
memberikan rekomendasi agar sekolah melengkapi alat peraga keterampilan yang
sesuai dengan jenis-jenis keterampilan yang diprogramkan di sekolah.
Kata kunci: Okulasi, Bunga Kertas (Bougenville), Anak Tunagrahita Ringan
PENDAHULUAN
Pelaksanaan pendidikan pada hakekatnya bertujuan untuk
mewujudkan masyarakat yang cerdas,
terampil, serta mampu mandiri
sebagai hasil dari pendidikan yang telah dicapainya. Pendidikan juga pada
umumnya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak secara optimal dalam
segala aspek, agar anak dapat hidup mandiri baik di lingkungan keluarga maupun
masyarakat. Fungsi dan tujuan pendidikan dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 dalam bab II pasal 3 sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
berdemokratis serta bertanggung jawab.
Oleh sebab
itu kesempatan untuk memperoleh pendidikan adalah hak bagi setiap bangsa Indonesia sebagaimana termaktub
dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab. XII pasal 31 ayat 1 bahwa “Tiap-tiap warga
negara berhak mendapat pengajaran”. Hal ini berarti yang berhak mendapatkan
pendidikan dan pengajaran bukan untuk
anak yang normal saja, tetapi
anak yang berkebutuhan khusus pun mempunyai
kesempatan sama dalam mendapatkan pelayanan pendidikan dan pengajaran secara
optimal. Hal tersebut dipertegas juga dalam Undang-Undang Negara Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU RI Tahun 2003 tentang Sisdiknas) pasal 5 ayat
2 bahwa: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,
intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan Khusus”.
Dengan
mendapatkan pelayanan pendidikan anak tunagrahita diharapkan dapat memiliki
keterampilan sebagai bekal hidupnya di masyarakat kelak. Dalam pembelajarannya
anak tersebut diberikan beberapa bidang pembelajaran, seperti pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas (bougenville). Program yang dipilih disesuaikan dengan kamampuan
anak tunagrahita ringan
khususnya tingkat SMALB kelas XI,
bahan baku banyak terdapat di sekitar sekolah dan harga jualnya tinggi sehingga
dengan keterampilan ini diharapkan
mereka memiliki bekal kehidupan di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Pengamatan
penulis pada studi pendahuluan yang dilaksanakan pada pertengahan bulan Mei 2014 di SLB Negeri Budi Utama Kota Cirebon, menunjukkan bahwa sebagian anak
tunagrahita ringan ketika mempelajari
keterampilan okulasi
bunga kertas (bougenville) meskipun belum optimal,
semangat mereka cukup tinggi untuk mempelajarinya, apalagi ketika melihat
contoh hasil okulasi bunga kertas (bougenville) yang sudah ada, terlebih
dengan variasi warna dan kecantikan bentuknya.
Berdasarkan pengamatan di atas, Penulis
tertarik untuk melakukan penelitian
tentang: “Kemampuan dalam
pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas (bougenville) pada anak tunagrahita ringan kelas XI di SLB Negeri
Budi Utama Kota Cirebon”
Pengertian Anak Tunagrahita
Tunagrahita
merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai
kemampuan intelektual di bawah anak normal. Istilah lain untuk menyebut anak
tunagrahita, yaitu: cacat mental, lemah mental, reterdasi mental, terbelakang
mental, namun istilah tersebut mempunyai arti yang sama yaitu suatu keadaan
keterbatasan kecerdasan yang jauh di bawah rata-rata anak normal dan disertai
ketidak cakapan
dalam interaksi sosial.
Pengertian anak tunagrahita menurut para ahli
seperti sebagaimana dikemukakan oleh American
Asosiacion on Mental Deficiency (AAMD)
yang dikutip Grossman (1983) dalam (Kirk&Galagher 1998: 116) alih bahasa
Astati (2011: 9) mengemukakan bahwa: “tunagrahita mengacu pada fungsi intelek umum
yang nyata berada di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan dalam adaptasi
tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan”. Batasan ini
secara jelas menekankan pada signifikasi penyimpangan, artinya apabila
keterhambatan intelektual itu hanya sedikit saja di bawah normal, maka anak
tersebut tidak termasuk tunagrahita.
Berikut ini akan
dikemukakan pengertian/definisi mengenai
tunagrahita yang
dikutip dari Delphie (2006:15) bahwa:
“Anak
tunagrahita secara umum mempunyai tingkat kemampuan intelektual
di bawah rata-rata. Selain itu mengalami hambatan terhadap perilaku adaptif
selama masa perkembangan hidupnya dari 0 tahun hingga 18 tahun.”
Sejalan dengan itu menurut Amin
(1995:11) definisi anak tunagrahita adalah sebagai berikut:
“Anak tunagrahita adalah mereka yang kecerdasannya
jelas berada di bawah rata rata, mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan
diri dengan lingkungan, kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang abstrak dan
yang sulit serta yang berbelit-belit, kurang menyesuaikan diri dengan
lingkungan”.
Sependapat dengan hal itu Abdurachman (1994:20)
mendefinisikan tunagrahita sebagai berikut: “Tunagrahita mengacu pada adanya
penyimpangan fungsi intelektual umum yang nyata di bawah rata-rata bersamaan
dengan kekurangan dalam perilaku adaptif dan tampak pada masa perkembangan”.
Berdasarkan hal tersebut, ada tiga kemampuan untuk
menentukan seseorang dikatakan tunagrahita yaitu: kecerdasan intelektual di
bawah rata-rata anak-anak normal, ketidak mampuan dalam menyesuaikan diri
dengan lingkungan sosial, dan perkembangan prilaku adaptif yang ditunjukkan sejak
masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
Pengertian Anak Tunagrahita Ringan
Terdapat
beberapa istilah mengenai anak tunagrahita ringan disesuaikan dengan sudut
pandang dan latar belakang keilmuan salah satu ahli. Definisi
anak tunagrahita ringan menurut Amin (1995: 11-12) anak tunagrahita ringan
adalah: “Anak
tunagrahita ringan yaitu: anak yang kecerdasannya dan adaptasi sosialnya
terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang
pelajarana akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja”.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa yang dimaksud dengan anak tunagrahita ringan masih
dapat belajar membaca, menulis, dan
berhitung sederhana. Dengan
bimbingan dan pendidikan yang
baik, anak tunagrahita ringan dapat dididik menjadi tenaga kerja semi skilled.
Pendidikan Keterampilan Bagi Anak Tunagrahita Ringan
Keterampilan merupakan
salah satu kemampuan yang harus dimiliki anak tunagrahita ringan dalam
mempersiapkan hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Dengan memiliki
keterampilan anak tunagrahita ringan diharapkan mempunyai kemampuan untuk kehidupannya
yang mandiri, sehingga tidak
selalu bergantung kepada orang lain. Oleh karena itu pendidikan keterampilan
merupakan program pengajaran yang diberikan melalui latihan-latihan yang
terencana, bertahap, serius serta terus
menerus. Keterampilan menurut Subarnas (2006: 1) sebagai berikut: “Keterampilan
merupakan suatu ilmu memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat di dalam
berbagai pengalaman apresiasi dan berkreasi untuk menghasilkan suatu produk
berupa benda nyata yang bermanfaat langsung bagi kehidupan siswa.”
Sedangkan menurut Astati
dan Mulyati (2011: 54) “keterampilan dipersiapkan untuk memiliki bekal
pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan praktis untuk memasuki lapangan kerja,
lingkupnya meliputi: rekayasa, pertanian, jasa (koperasi dan kerumah tanggaan)”
Sesuai dengan
pengertian di atas, dapat dipahami bahwa pengajaran keterampilan sangat
diperlukan oleh anak tunagrahita ringan, karena dengan latihan yang intensif
dan pemilihan program yang tepat sesuai kemampuan yang dimiliki anak
tunagrahita ringanpun dapat melakukan sampai dengan menghasilkan produk
meskipun dengan sedikit pengawasan
dan bimbingan serta mempertimbangkan keinginan orang tua siswa dengan keadaan dilingkungan tempat
tinggalnya.
1.
Ruang
Lingkup Pelajaran Keterampilan
Ruang lingkup bahan pelajaran keterampilan vokasional untuk SMALB tunagrahita ringan dapat mengacu kepada sekolah
disesuaikan dengan potensi daerah,
hanya programnya disederhanakan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki anak tunagrahita ringan.
Sedangkan
dalam kurikilum 2013 (2014: 60) adalah bidang keterampilan kerja yang
dikembangkan oleh sekolah disesuaikan dengan potensi, hambatan dan kebutuhan
khusus serta minat dan bakat PDBK. berikut beberapa bidang keterampilan yang
dapat dipertimbangkan dan dipilih untuk dibekalkan kepada PDBK:
a. Teknologi informasi dan
komputer
b. Pariwisata
c. Tata boga
d. Tata busana
e. Tata kecantikan
f. Masase
g. Akupuntur
h. Elektronik
i.
Otomotif
j.
Pertanian
k. Perikanan
l.
Percetakan
m. Seni pertunjukan
n. Seni rupa dan kria
Berdasarkan
kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan pelajaran keterampilan
diserahkan kapada masing-masing sekolah disesuaikan dengan potensi daerahnya.
2.
Tujuan
Pendidikan Keterampilan Anak
Tunagrahita Ringan
Salah
satu tujuan pendidikan adalah untuk mempersiapkan peserta didik mendapatkan
pekerjaaan yang sesuai dengan
kemampuan dan minatnya.
Mempersiapkan berarti proses
menanamkan kebiasaan tertentu, yang sesuai dengan kebutuhan anak sehingga
menjadi individu yang bahagia. Oleh karena itu pelajaran keterampilan khususnya
jenjang SMALB bukanlah melatih siswa
dalam pekerjaan khusus, tetapi yang lebih penting adalah mengarahkan siswa untuk dapat menyesuaikan kemampuan dan
minatnya untuk dapat menolong dirinya sendiri sehingga dapat mandiri dalam
segala aspek kehidupan. Dengan mempunyai bekal keterampilan itu diharapkan anak
tunagrahita mendapat pekerjaan yang dapat dijadikan bekal hidup di masyarakat.
Sejalan
dengan itu Mainord (1979: 83) yang dikutip Astati (2001: 16) Mengemukakan bahwa
“Tujuan pendidikan keterampilan bagi anak tunagrahita ringan adalah
mengembangkan keterampilan dan dapat mengadaptasikannya pada suatu pekerjaan”.
Dari
pernyataan di atas dapat penulis simpulkan bahwa tujuan pendididkan
keterampilan bagi anak tunagrahita ringan adalah mengembangkan keterempilan
sesuai dengan kemampuan yang dapat diadaptasikan dalam kehidupan sehari-hari
sebagai bekal hidup di masyarakat.
3.
Fungsi
Program keterampilan yang diberikan kepada anak tunagrahita ringan
fungsinya adalah:
a. Meningkatkan harkat dan martabat anak
tunagrahita dalam masyarakat.
b. Menumbuhkan kepercayaan diri sendiri pada
anak tunagrahita.
c. Meningkatkan kemandirian anak tunagrahita.
d. Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan
anak tunagrahita dalam keterampilan khususnya membuat okulasi bunga kertas. (Disdik Provinsi Jawa Barat, 2007:
15)
Jelaslah bahwa fungsi keterampilan di atas adalah agar anak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki untuk dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat. Pengajaran keterampilan sangat diperlukan oleh anak tunagrahita karena pembelajaran keterampilan mengarah kepada tercapainya perkembangan
potensi yang optimal. Bidang
keterampilan diberikan kepada anak tunagrahita untuk membentuk anak tunagrahita menjadi mandiri.
Okulasi Bunga Kertas (Bougenville)
Okulasi
adalah menempelkan tunas suatu pohon (unggulan) ke pohon yang lain yang sejenis
dengan maksud untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sebagaimana dikemukakan Margianasari (2012: 22). “Okulasi adalah menempelkan
tunas dari pohon kepohon lain yang sejenis untuk menggabungkan 2 sifat
tanaman”. Sependapat dengan itu dalam http://syarattumbuh.blogspot.com (/2013/05/15).
“Okulasi (menempel, budding; red)
juga salah satu
teknik perbaikan kualitas tanaman
secara vegetatif buatan yang dilakukan dengan menempelkan mata tunas dari
tanaman yang unggul ke batang tanaman lainnya
(Indukan)”
Berdasarkan pengertian di atas okulasi adalah menempelkan
tunas pohon unggul yang sejenis ke pohon lainnya (indukan) untuk mendapatkan
kualitas hasil yang lebih baik, baik dari warna, variates dan keindahan
bentuknya.
Tujuan okulasi
adalah menggabungkan dua pohon atau lebih yang sejenis untuk mendapatkan hasil
dalam waktu relatif singkat. Redaksi Agro Media (2007: 45) Menyatakan okulasi
adalah: Menggabungkan 2 tanaman sejenis yang masing-masing mempunyai sifat
berbeda, cara ini dilakukan dengan jalan menggabungakan 2 buah bagian tanaman
sejenis yang berbeda sifatnya. Tanaman yang digabungkan harus mempunyai
sifat-sifat yang baik. Misalnya, batang tanaman yang memiliki sifat baik
digabungkan dengan akar tanaman yang memiliki sifat yang baik digabungkan
dengan akar tanaman yang memiliki sifat baik. Hal ini dilakukan dengan cara okulasi.
Beberapa keuntungan mengokulasi adalah
memperoleh hasil yang sama-sama dengan sifat
induknya dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan. Adapun kerugian mengokulasi
adalah batang kurang kokoh karena akar tidak sesuai dengan tanaman baru diperoleh hanya sedikit. Apabila terlalu
sering mengokulasi tanaman akan cepat rusak.
Salah satu bentuk keterampilan yang dapat
dilakukan oleh anak tunagrahita ringan adalah keterampilan
okulasi bunga kertas. Keterampilan okulasi bunga kertas ini merupakan
pengetahuan dan keterampilan tentang cara-cara okulasi dengan teknik yang
ditentukan sebagai bagian paket kerajinan tangan yang dikembangkan untuk siswa
tunagrahita ringan di SMALB dibidang pertanian, yaitu budidaya tanaman hias.
Pengertian
Bunga Kertas (Bougenville)
Bunga kertas (bougenville)
adalah sejenis bunga yang biasanya di jadikan tanaman hias, karena keindahan
warnanya yang bervariatif, sebagaimana dalam http://syarattumbuh.blogspot.com (/2013/05): Bougenville
atau kembang kertas, di sebut bunga kertas karena bunga tersebut tipis tampak
seperti kertas. Keindahan
tanaman ini berasal dari bunganya yang berwarna cerah dan menarik perhatian,
karena tumbuh dengan rimbunnya. Tanaman ini sering ditanam di taman dan kawasan
perumahan. Pada waktu tanaman ini berbunga, tanaman ini mempunyai kebiasaan
merontokkan beberapa daunnya.
Berdasarkan pengertian di atas bunga kertas (bougenville)
adalah bunga yang daunnya tumbuh rimbun dan bunganya menyerupai kertas serta
warna bunganya cerah, sehingga menarik perhatian ketika bunganya lagi mekar.
Pengertian Okulasi Bunga Bougenville
Pengertian
Okulasi bunga kertas
adalah “berkreasi dengan memberikan
warna bunga dan daun yang berbeda pada sebuah pohon indukan.
Sehingga kalau sedang berbunga, satu pohon bisa beraneka warna daun dan
bunga. Sebuah Pohon Bougenville dapat
disambung menjadi 5 sampai 6 warna ”(http://syarattumbuh.blogspot.com /2013/05/15)
Okulasi bunga
kertas ini biasa terdapat dijual
ditempat-tempat penjualan tanaman hias atau
tempat wisata. Kini okulasi bunga kertas ini mulai banyak dijual dipinggir-pinggir jalan raya
seperti jalan-jalan protokol yang
di lewati angkutan antar provinsi atau antar pulau. okulasi bunga kertas atau bougenville mempunyai nilai ekonomi yang
cukup tinggi, di tempat penjualan tanaman hias harganya bisa mencapai ratusan
ribu bahkan jutaan disesuaikan dengan jumlah warna dan besar batangnya. proses
yang mudah, peralatan sederhana, bahan tersedia dilingkungan sekitara namun
diperlukan keuletan, ketelatenan dan kesabaran untuk melakukannya.
1) Fungsi Okulasi
Fungsi okulasi adalah untuk mendapatakan hasil yang
mudah cepat dan penyiapan benih relatif singkat. Fungsi okulasi adalah:
a) Perbanyakan tanaman
b) Peroleh tanaman dengan produktifitas yang
tinggi, ada beberapa warna di satu pohon,
c) Tanaman memiliki sifat yang
baru,
d) Pertumbuhan tanaman yang
seragam,
e) Penyiapan benih relatif
singkat, (Marthin (2002: 76).
Fungsi
utama okulasi bunga kertas (bougenville) adalah untuk mendapatkan hasil
yang lebih baik, waktu singkat dan prodiktifitasnya tinggi.
Pelaksanaan Keterampilan Okulasi Bunga Kertas.
1.
Persiapan
a.
Guru melakukan asesmen
kemampuan siswa mengenai keterampilan okulasi bunga kertas.
b.
Penyusunan program keterampilan okulasi
bunga kertas dengan membuat tema, silabus rencana program
pembelajaran dan evaluasi.
Program okulasi meliputi
komponen mengenal bahan, alat dan proses okulasi. Dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1)
Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengoptimalkan kemampuan anak tunagrahita ringan dalam
keterampilan okulasi bunga kertas agar
peserta didik dapat hidup secara mandiri dan tidak menjadi beban orang lain.
2)
Materi
Materi yang diberikan dalam okulasi bunga kertas meliputi dua aspek yaitu: aspek pemahaman dan
aspek unjuk kerja. Aspek pemahaman antara lain: pengenalan alat untuk okulasi, pengenalan bahan untuk okulasi. Aspek unjuk kerja yaitu mempraktekan proses okulasi.
3)
Metode
Metode yang digunakan dalam pembelajaran okulasi antara lain metode ceramah, demontrasi, tanya jawab, unjuk kerja dan pemberian tugas. Metode
ceramah digunakan dalam menjelaskan teori, metode demontrasi dan unjuk kerja
digunakan dalam praktek okulasi
bunga kertas. Metode yang digunakan untuk setiap peserta didik tidak
sama karena disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki setiap peserta didik.
4) Media
Dalam pelaksanaan
pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas guru selalu menggunakan alat
peraga yang telah disediakan sekolah.
Peralatan yang dipakai pada
waktu pembelajaran adalah pisau okulasi, ember sedang dan penanda
tumbuh pucuk baru. Bahan yang dibutuhkan batang bunga kertas, tanah gembur, pupuk kandang dan tali rapia bening /
plastik es lilin.
5)
Evaluasi
Dalam pemberian evaluasi
dari pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas, guru menggunakan tes lisan
dan tes perbuatan. Evaluasi diberikan selama proses pembelajaran berlangsung.
2.
Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan awal,
kegiatan inti dan kegiatan akhir. Kegiatan awal dimulai dengan mengadakan apersepsi
pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas pertemuan sebelumnya, menjelaskan materi pelajaran yang akan diberikan dan mengkondisikan anak untuk belajar keterampilan okulasi bunga kertas.
Kegiatan inti dimulai dengan
cara pembuatan yang dimulai dari mengiris batang indukan untuk membuat jendela
okulasi, mengiris batang muda
untuk mengambil mata entres, menempel mata entres pada jendela okulasi di
batang indukan, mengikat mata entres dengan tali rapia putih/plastik es lilin, Menempel
label prediksi tumbuh pucuk muda pada mata entres, menyiram hasil okulasi
dengan hati-hati tanpa membasahi mata entres, menyimpan hasil okulasi di tempat
teduh dan terbuka.
Adapun hasil yang
diperoleh dari keterampilan okulasi
bunga kertas disimpan di taman
sekolah dengan maksud selain untuk keindahan lingkungan juga sebagai
informasi/pemasaran hasil dengan memakai label harga atau disimpan di teras di
tempat orang tua siswa mobilisasi ketika mengantar dan menjemput
putra-putrinya.
Kegiatan akhir mengadakan pengamatan/evaluasi dari hasil keterampilan okulasi bunga kertas dan kesimpulan dari belajar keterampilan okulasi bunga kertas
3.
Tindak
Lanjut
Tindak lanjut diberikan dalam bentuk pengulangan, pengayaan dan pengembangan. Pengulangan dilakukan apabila anak belum dapat menyelesaikan evaluasi dengan baik, guru dapat mencari
bahan pengajaran yang lebih menarik agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan
baik, pengayaan dilakukan
apabila anak dapat menyelesaikan
evaluasi dengan baik dan pengembangan okulasi bunga kertas
dilakukan apabila anak sudah memasuki tingkat mahir, dengan menambah jenis
warna bunga kertas yang di okulasikan ke batang indukan.
Upaya untuk Mengetahui Kemampuan Okulasi Bunga
Kertas pada Anak Tunagrahita Ringan Tingkat SMALB
1. Melaksanakan Asesmen
a. Pengertian
Asesmen
Asesmen
adalah proses untuk mengetahui kemampuan anak sebagai pertimbangan untuk
mengambil keputusan dalam menentukan pembelajaran. Menurut Lerner (1988:54)
dalam Khoeriah (2009: 1) “Asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi
tentang seorang anak yang akan di gunakan untuk membuat pertimbangan dan
keputusan yang berhubungan dengan anak tersebut”. Selanjutnya “Asesmen dalam
pendidikan luar biasa melibatkan pengumpulan informasi yang relevan dalam
membuat keputusan dalam rangka memilih tujuan dan sarana pembelajaran, strategi
pembelajaran dan program penempatan yang tepat”. (Abdurahman, 2003:30).
Uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa asesmen adalah suatu proses untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang
dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan strategi pembelajaran dan program
penempatan yang tepat yang
sesungguhnya dibutuhkan anak.
Berdasarkan informasi itulah
seorang guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realistis
sesuai dengan kenyataan obyektif dari anak tersebut.
b. Tujuan dan Fungsi Asesmen
Tujuan asesmen adalah untuk mengetahui kemampuan dan
kesulitan anak dalam okulasi bunga kertas (Bougenville) dan program
disusun sesuai dengan kemampuan anak. Menurut Soendari (2010: 10) Fungsi
asesmen dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, antara lain:
1) Sebagai alat
untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi anak saat itu
2) sebagai bahan
untuk menentukan apa yang sesunggunya dibutuhkan anak dalam pembelajaran
3) sebagai dasar
bagi seorang guru dalam menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan
kesulitan yang dihadapi dan sesuai dengan materi yang dibutuhkan anak yang
bersangkutan.
Sejalan
dengan itu menurut Salvia dan Ysseldyke dalam Khoeriah (2009: 2) “tujuan
asesmen dilakukan untuk mendapat lima keperluan, yaitu: penyaringan, pengalih
tanganan, klasifikasi, perencanaan pembelajaran dan pemantauan kemajuan belajar
anak”.
Berdasarkan
pengertian menurut para tokoh di atas tujuan asesmen adalah untuk mengetahui
kemampuan awal anak, perencanaan pembelajaran serta sebagai pemantauan kemajuan
hasil belajar yang diperolah anak.
c.
Instrumen
Asesmen
Rumusan alat asesmen pembelajaran keterampilan mengenai okulasi bunga kertas bagi anak tunagrahita
ringan kelas XI yang dibuat
secara non-formal oleh guru adalah sebagai berikut:
1)
Mengenal
alat keterampilan okulasi bunga kertas
2)
Mengenal
bahan keterampilan okulasi bunga kertas
3)
Proses
okulasi bunga kertas
4)
Memelihara
alat dan bahan keterampilan okulasi bunga kertas
5)
Memelihara
hasil keterampilan okulasi bunga kertas
d. Pelaksanaan Asesmen
1) Tahap Persiapan
Langkah awal yang dilakukan
sebelum melaksanakan asesmen adalah menyusun instrumen asesmen. Instrumen asesmen disusun oleh kepala sekolah dan guru keterampilan kelas XI berdasarkan standar kompetensi dan
kompetensi dasar kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 dikolaborasikan dengan kurikulum tahun 2013.
2) Tahap Pelaksanaan:
Anak ditanya tentang nama alat dan bahan
okulasi bunga kertas dan anak menyiapkan alat, menyiapkan bahan dan melakukan
okulasi bunga kertas:
(a) Anak membuat jendela okulasi
(b) Anak mengangkat irisan entres
dengan pisau
(c) Anak menempelkan
mata entres ke batang indukan
(d) Anak mengikat mata entres dengan tali plastik/plastik es lilin
(e) Anak menanamkan indukan di pot tanah campur
kompos
(f) Anak menyediakan air untuk
menyiram indukan setelah proses okulasi.
(g) Anak
memelihara alat dan bahan serta memelihara hasil setelah proses okulasi
selesai.
3)
Kegiatan
Akhir
Pada
kegiatan akhir guru menenangkan anak, yaitu memberikan waktu untuk istirahat, memberikan hadiah pujian dan
peregangan otot-otot agar kembali rilek. Menganalisis hasil okulasi yang telah dilakukan, guru menganalisa pekerjaan
anak dalam pelaksanaan okulasi, seperti mengenal bahan, mengenal alat,
pelaksanaan okulasi bunga kertas, memelihara bahan, memelihara alat dan
memelihara hasil.
2.
Analisis
Tugas
a. Pengertian
Analisis
tugas digunakan sebagai acuan dalam mengambil keputusan untuk menentukan materi
selanjutnya. Wechman dkk (1981:60) menyatakan bahwa: “Analisis tugas adalah
upaya mengadakan rincian dari satu keterampilan khusus menjadi
langkah-langkah/tugas kecil yang memungkinkan anak mudah mempelajarinya”.
(Astati, 2010: 56). Analisis tugas dalam kemampuan okulasi bunga kertas berarti
tugas yang dirinci berdasarkan kemampuan dan kondisi anak.
b. Tujuan
Tujuan
analisis tugas adalah agar anak memhami terhadap langkah-langkah dalam
keterampilan okulasi bunga kertas, sehingga dapat dirinci sedetail mungkin agar
terhindar dari kesalahan, pada akhirnya anak mengerti cara mengoulasi bunga
kertas yang benar..
c. Jenis-jenis Analisis Tugas
Analisis
tugas bermacam-macam dan penggunaan tiap jenis sangat tergantung pada
karateristik materi pelajaran atau tugas yang akan diajarkan dan kemampuan
siswa. Suhaeri (2005:55) mengemukakan ada 3
analisis tugas sesuai
sifat tugasnya yaitu: “analisis tugas pecahan, analisis tugas aliran, dan
analisis tugas generalisasi”.
Analisis
tugas yang digunakan dalam keterampilan okulasi bunga kertas adalah analisis
tugas jenis aliran. Disebut aliran karena langkah-langkah yang terdapat di
dalamnya harus dilakukan berturut-turut. Langkah-langkah itu dibuat secara
rinci dari awal sampai akhir dan siswa dilatih dahulu
langkah-langkahnya. Tiap langkah harus benar-benar mampu dilakukan dahulu oleh
anak dan barulah pindah pada tugas berikutnya.
d.
Pelaksanaa
Analisis Tugas
Kegiatan awal pelaksanaan analisis tugas keterampilan okulasi bunga kertas adalah mengkondisikan anak, berdo’a
dan mengadakan apersepsi.
Pelaksanaan pembelajaran
meliputi pengenalan alat
dan bahan untuk okulasi bunga kertas yaitu guru menunjukkan, menyebutkan, dan membedakan alat
dan bahan untuk okulasi bung kertas, demonstrasi cara okulasi bung
kertas dimulai dari menyiapkan alat dan bahan, juga memelihara hasil okulasi bung kertas. Kegiatan ini disertai dengan latihan, peragaan dan
tanya jawab, dan diharapkan agar siswa dapat memahami materi yang diberikan.
e. Format Analisis Tugas
Contoh format analisi tugas
Komponen
|
Uraian
|
Dpt
|
Tdk dpt
|
Dpt dgn bantuan
|
f.
Kegiatan
Akhir
Dalam
kegiatan akhir diisi dengan pelaksanaan evaluasi secara lisan
dan unjuk kerja terhadap kemampuan
yang telah dimiliki siswa dari hasil pembelajaran yang telah diberikan guru,
dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana daya serap anak terhadap pelajaran
yang telah disampaikan.
Metode Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah
ditetapkan, diperlukan suatu metode penelitian yang sesuai dengan masalah yang
diteliti untuk menemukan data dan informasi yang dibutuhkan. Hal tersebut
sejalan dengan pendapat yang di kemukakan Sugiyono (2013:2) bahwa metode penelitian adalah “cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, menurut Sugiyono (2013:230) adalah:
Metode
yang dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi sosial tertentu sebagai
obyek penelitian. Pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang akan
diteliti, maka peneliti melakukan penjelajah umum dan menyeluruh, melakukan
deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan.
Berdasarkan hal tersebut, metode deskriptif peneliti
gunakan dalam penelitian ini yakini untuk meneliti situasi dan kondisi kekinian
mengenai kemampuan dalam keterampilan mengenai okulasi bunga kertas (Bougenville) pada anak tunagrahita di SLB
Negeri Budi Utama.
Dari kutipan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan kejadian yang sesungguhnya
yang terjadi pada saat peneliti sedang melaksanakan penelitian dan tanpa ada unsur
rekayasa data.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
pendekatan kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan kualitatif menurut Sugiyono (2013:14) adalah:
Metode
penelitian kualitatif adalah metode yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, bersifat deskriptif
analitik, peneliti adalah sebagai instrumen kunci, dan hasil penelitian ini
lebih menekankan makna dibanding generalisasi, serta melakukan analisis
reflektif terhadap berbagai dokumen yang ditemukan di lapangan.
Jadi yang dimaksud dengan
pendekatan kualitatif adalah pendekatan
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan dari
sekelompok manusia atau perilaku yang diamati dalam situasi alamiah, dan karena
pendekatan ini lebih menekankan pada makna, maka hasil yang diperoleh terasa
lebih berarti, terutama untuk merumuskan rencana tindak lanjut.
Sehubungan dengan masalah penelitian ini, maka peneliti mempunyai rencana kerja atau pedoman pelaksanaan
penelitian dengan menggunakan metode
kualitatif, di mana yang dikumpulkan berupa pendapat, tanggapan, informasi,
konsep-konsep dan keterangan yang
berbentuk uraian dalam mengungkapkan masalah.
Dengan menggunakan metode ini, diharapkan dapat
mencapai tujuan penelitian sebagaimana yang telah ditetapkan, yaitu untuk
mendapatkan data mengenai kemampuan anak tunagrahita ringan dalam pembelajaran
keterampilan okulasi bunga kertas (bougenville) di SLB Negeri Budi Utama
Kota Cirebon
Pembahasan
Dari hasil
penelitian di lapangan penulis mendapat simpulan
khusus sebagai berikut:
Kemampuan dalam keterampilan mengenai
okulasi bunga kertas
Hasil observasi menunjukkan bahwa anak tunagrahita
ringan kelas XI mampu mengenal alat okulasi bunga kertas dengan benar yaitu dengan cara
menunjukkan, menyebutkan dan membedakan alat seperti: pisau okulasi/kater dan ember air sedang.
Anak juga mampu mengenal bahan untuk okulasi bunga kertas seperti: batang
indukan, batang untuk mata entres, tali rapia putih/plastik es lilin, pupuk
kandang dan tanah gembur. Sebagian besar langkah-langkah dalam proses okulasi
bunga kertas dapat dilakukan oleh anak, seperti: menyiapkan alat dan bahan, memilih
batang untuk indukan dan mata entres, menempel mata entres ke jendela okulasi
pada batang indukan, mengikat mata entres dengan tali rapia putih/plastik
es lilin, memberi
label penanda tumbuh tunas baru
pada mata entres.
Diakhir proses menyiram dengan air dan
kemudian menata dan menyimpan hasil okulasi di taman sekolah dapat dikerjakan
sendiri, memelihara alat, bahan dan memelihara hasil bunga kertas mampu
melakukannya tanpa bimbingan.
Kesulitan yang dihadapi anak tunagrahita ringan.
Anak mengalami kesulitan dalam proses pelaksanaan okulasi, sebagian anak tidak dapat menyayat
batang indukan dan mata entres dikarenakan kulit bunga kertas tipis, mengangkat
mata entres dari indukan karena harus sesuai dengan tanda batasan penyayatan
pada batang, mengikat mata entres dan menempel penanda tumbuh pucuk baru dengan
label perkiraan karena ikatan tidak boleh menutupi mata entres sehingga
mengganggu proses tumbuhnya pucuk.
Suasana saat belajar
mengenai keterampilan okulasi bunga kertas.
Hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran okulasi
bunga kertas dilakukan dengan suasana senang, gembira dan antusias karena anak
tunagrahita ringan mampu melakukan okulasi. Meskipun ketika mengalami kesulitan
anak sering terlihat diam, murung bahkan menggerutu.
Pelaksanaan pembelajaran
keterampilan mengenai okulasi bunga kertas.
Berdasarkan
deskripsi dan analisis data hasil wawancara kepada guru tentang pelaksanaan pembelajaran keterampilan
dalam okulasi bunga kertas,
guru melaksanakan asesmen
sebelum membuat program dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal anak tunagrahita ringan agar
dapat mempersiapkan dan menyesuaikan dengan jenis keterampilan yang akan diberikan, berdo’a, absensi, dan mengkondisikan
siswa.
Pada kegiatan inti dilakukan dengan mengenalkan
bahan dan alat, langkah-langkah okulasi dan evaluasi selama berlangsungnya
kegiatan pembelajaran (evaluasi proses/kinerja). Pelaksanan okulasi bunga
kertas dimulai dari penyayatan indukan dan batang muda, menempel mata entres,
mengikat, dan menyimpan di taman sekolah sebagai tempat penyimpanan.
Tindak lanjut dilakukan guru kepada anak dengan memberikan
latihan kembali kepada yang belum mampu. Dalam kegiatan pengayaan anak yang
sudah mencapai indikator disuruh untuk melakukan sendiri okulasi bunga kertas di
rumahnya dengan bekal pengalaman dan latihan yang telah diberikan. Setelah
dapat melakukannya sediri, anak diberikan pekerjaan seperti langsung praktek di
taman sekolah.
Kesimpulan
Berikut ini
penulis akan mengemukakan kesimpulan
yang didasarkan atas teori yang melandasi penelitian ini, dan simpulan khusus yang merupakan simpulan hasil penelitian sebagaimana yang
telah dipaparkan pada bab sebelumnya serta rekomendasi bagi pihak-pihak
terkait.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan okulasi bunga kertas pada anak tunagrahita ringan kelas XI di SLB Negeri Budi Utama Kota Cirebon beragam, terutama dalam menunjukkan dan menyebutkan bahan dan
alat okulasi bunga kertas (bougenville),
proses mengokulasi bunga kertas, memelihara alat dan bahan serta memelihara
hasil okulasi bunga kertas (bougenville).
Penutup
Puji serta syukur penulis panjatkan ke
hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan rahmatnya yang telah penulis rasakan, terutama nikmat sehat dan kesempatan sehingga penulis
dapat menyelesaikan penelitian ini. penulis telah berusaha semaksimal mungkin dengan seluruh kemampuan yang
dimiliki untuk melaksanakan penelitian, namun penulis merasa kurang dan
menyadari bila skripsi ini masih jauh
dari sempurna baik dari segi isi maupun sistematika penulisannya.
Penulis berharap penulisan hasil penelitian ini memberikan manfaat bagi dunia
pendidikan luar biasa sebagai bahan informasi awal dalam upaya meningkatkan
layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dan terima kasih untuk semuanya atas do’a, kerjasama
dan segala bantuan baik moril
maupun materi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman. ( 2003), Pelaksanaan Asesmen. Jakarta:Puspa swara.
Amin, (1995) Ortopedagogik
Anak Tunagrahita. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Amin, (1955) Kelainan-kelainan
jasmani Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Astati. (1985). Terapi Bermain,
Terapi Musik dan Terapi Okupasi Pada Anak Tuna Grahita ; Jakarta;
Depdikbud.
Astati. (2001). Persiapan Pekerjaan Penyandang Tunagrahita.
Bandung: CV. Pendawa.
Astati, Sri Widati, Tjutju Soendari. (2010) Pembelajaran Kreatif.
Bandung: CV Catur Karya Mandiri
Astati & Lis Mulyati. (2010) Pendidikan Anak Tunagrahita. Bandung: CV Catur Karya MandiriDelphi Bandi (2006), Pembalajaran Anak
Tunagrahita, Bandung: PT
Refika Aditama.
Depdikbud. (1991). Peraturan Pemerintah RI No. 72, Tentang
Pendidikan Luar Biasa. Jakarta.
Dinas Pendidikan Nasional. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
No. 20 Tahun 2003. Jakarta: BP. Dharma Bhakti.
Disdik Provinsi Jawa Barat, (2014). Kurikulum
2013 pedoman pelaksanaan kurikulum bagi peserta didik berkebutuhan khusus di
sekolah inklusi. Bandung: DISDIK JABAR
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. (2001). Kurikulum Pendidikan
Luar Biasa. Jakarta.
Depdikbud. (1994). Peraturan Pemerintah RI No. 72/1991 tentang
Pendidikan Luar Biasa. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1991). Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas. 2007. Model Pembelajaran Pendidikan Khusus Ringan
(C). Tunagrahita Sedang (C1).
Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
kurikulum (2006). Kurikulum pendidikan luar biasa.
Jakarta. Departemen Pendidikan
Nasional
Marhijanto, B.(1991).Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa Kini. CV Terbit Terang: Surabaya
Somantri (2006) Karakteristik anak tunagrahita. Bandung. PT. Refika Aditama.
Undang-Undang RI NO. 20 tahun 2003, Tentang sistem Pendidikan Nasional. Media Bandung: Fokus.
Undang-Undang Dasar 1945 dan
Perubahannya.(2004). Jakarta. Kawan Pustaka.
http://syarattumbuh.blpgspot.com 2013/05/15
Margianasari A.F. (2012) Panduan praktis bertanam buah di lahan dan
pot. Bogor: Penebar Swadaya
Nani, M. Euis dan Tjutju, Soendari (2010). Asesmen dalam pendidikan anak berkebutuhan
khusus.Bandung: CV. Catur Karya Mandiri.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R
& D. Bandung. : CV.
Alfabeta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2001). Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. (2003). Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Balai Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar