Rabu, 24 Juli 2019

OKULASI BUNGA KERTAS (BOUGENVILLE)


KEMAMPUAN DALAM KETERAMPILAN
MENGENAI OKULASI BUNGA KERTAS (BOUGENVILLE)
PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS XI
DI SLB NEGERI BUDI UTAMA KOTA CIREBON

Dr.Astati, M.Pd

Euis Nani Mulyati, M.Pd

GAOS


ABSTRAK
Pembelajaran keterampilan diharapkan dapat mengembangkan potensi anak tunagrahita ringan secara optimal. Melalui pembelajaran keterampilan diharapkan siswa dapat menjadi mandiri, kreatif tidak bergantung pada orang lain dan mempunyai tanggung jawab.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan anak tunagrahita dalam keterampilan mengenai okulasi bunga kertas (Bougenville). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak tunagrahita ringan mampu mengokulasi bunga kertas (Bougenville), tetapi ada sebagian anak yang mengalami kesulitan dalam membedakan alat, bahan, membuat jendela okulasi, mengiris mata entres, mengikat mata entres pada indukan, menata dan menyimpan hasil okulasi di taman sekolah untuk  pemasaran produk sehingga membutuhkan latihan yang rutin. Peneliti memberikan rekomendasi agar sekolah melengkapi alat peraga keterampilan yang sesuai dengan jenis-jenis keterampilan yang diprogramkan di sekolah.

Kata kunci: Okulasi,  Bunga Kertas (Bougenville), Anak Tunagrahita Ringan


PENDAHULUAN
Pelaksanaan pendidikan pada hakekatnya bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas, terampil, serta mampu mandiri sebagai hasil dari pendidikan yang telah dicapainya. Pendidikan juga pada umumnya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak secara optimal dalam segala aspek, agar anak dapat hidup mandiri baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Fungsi dan tujuan pendidikan dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dalam bab II pasal 3 sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang berdemokratis serta bertanggung jawab.
Oleh sebab itu kesempatan untuk memperoleh pendidikan adalah hak bagi setiap bangsa Indonesia sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab. XII pasal 31 ayat 1 bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Hal ini berarti yang berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran bukan untuk anak yang normal saja, tetapi anak yang berkebutuhan khusus pun mempunyai kesempatan sama dalam mendapatkan pelayanan pendidikan dan pengajaran secara optimal. Hal tersebut dipertegas juga dalam Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU RI Tahun 2003 tentang Sisdiknas) pasal 5 ayat 2 bahwa: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan Khusus”.
Dengan mendapatkan pelayanan pendidikan anak tunagrahita diharapkan dapat memiliki keterampilan sebagai bekal hidupnya di masyarakat kelak. Dalam pembelajarannya anak tersebut diberikan beberapa bidang pembelajaran, seperti pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas (bougenville). Program yang dipilih disesuaikan dengan kamampuan anak tunagrahita ringan khususnya tingkat SMALB kelas XI, bahan baku banyak terdapat di sekitar sekolah dan harga jualnya tinggi sehingga dengan keterampilan ini diharapkan mereka memiliki bekal kehidupan di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Pengamatan penulis pada studi pendahuluan yang dilaksanakan pada pertengahan bulan Mei 2014 di SLB Negeri Budi Utama Kota Cirebon, menunjukkan bahwa sebagian anak tunagrahita ringan ketika mempelajari keterampilan   okulasi   bunga  kertas  (bougenville)  meskipun  belum  optimal,
semangat mereka cukup tinggi untuk mempelajarinya, apalagi ketika melihat contoh hasil okulasi bunga kertas (bougenville) yang sudah ada, terlebih dengan variasi warna dan kecantikan bentuknya.
Berdasarkan pengamatan di atas, Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang: “Kemampuan dalam pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas (bougenville) pada anak tunagrahita ringan kelas XI di SLB Negeri Budi Utama Kota Cirebon”

Pengertian Anak Tunagrahita
Tunagrahita merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah anak normal. Istilah lain untuk menyebut anak tunagrahita, yaitu: cacat mental, lemah mental, reterdasi mental, terbelakang mental, namun istilah tersebut mempunyai arti yang sama yaitu suatu keadaan keterbatasan kecerdasan yang jauh di bawah rata-rata anak normal dan disertai ketidak cakapan dalam interaksi sosial.
Pengertian anak tunagrahita menurut para ahli seperti sebagaimana dikemukakan oleh American Asosiacion on Mental Deficiency (AAMD) yang dikutip Grossman (1983) dalam (Kirk&Galagher 1998: 116) alih bahasa Astati (2011: 9) mengemukakan bahwa: “tunagrahita mengacu pada fungsi intelek umum yang nyata berada di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan dalam adaptasi tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan”. Batasan ini secara jelas menekankan pada signifikasi penyimpangan, artinya apabila keterhambatan intelektual itu hanya sedikit saja di bawah normal, maka anak tersebut tidak termasuk tunagrahita.
Berikut ini akan dikemukakan pengertian/definisi mengenai tunagrahita yang dikutip dari Delphie (2006:15) bahwa:
“Anak tunagrahita secara umum mempunyai tingkat kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Selain itu mengalami hambatan terhadap perilaku adaptif selama masa perkembangan hidupnya dari 0 tahun hingga 18 tahun.”
Sejalan dengan itu menurut Amin (1995:11) definisi anak tunagrahita adalah sebagai berikut:
“Anak tunagrahita adalah mereka yang kecerdasannya jelas berada di bawah rata rata, mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan, kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang abstrak dan yang sulit serta yang berbelit-belit, kurang menyesuaikan diri dengan lingkungan”.
Sependapat dengan hal itu Abdurachman (1994:20) mendefinisikan tunagrahita sebagai berikut: “Tunagrahita mengacu pada adanya penyimpangan fungsi intelektual umum yang nyata di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan dalam perilaku adaptif dan tampak pada masa perkembangan”.
Berdasarkan hal tersebut, ada tiga kemampuan untuk menentukan seseorang dikatakan tunagrahita yaitu: kecerdasan intelektual di bawah rata-rata anak-anak normal, ketidak mampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, dan perkembangan prilaku adaptif yang ditunjukkan sejak masa konsepsi hingga usia 18 tahun.

Pengertian Anak Tunagrahita Ringan
Terdapat beberapa istilah mengenai anak tunagrahita ringan disesuaikan dengan sudut pandang dan latar belakang keilmuan salah satu ahli. Definisi anak tunagrahita ringan menurut Amin (1995: 11-12) anak tunagrahita ringan adalah: “Anak tunagrahita ringan yaitu: anak yang kecerdasannya dan adaptasi sosialnya terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajarana akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja”.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan anak tunagrahita ringan masih dapat belajar membaca,  menulis,  dan  berhitung  sederhana.  Dengan  bimbingan  dan pendidikan yang baik, anak tunagrahita ringan dapat dididik menjadi tenaga kerja semi skilled.

Pendidikan Keterampilan Bagi Anak Tunagrahita Ringan
Keterampilan merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki anak tunagrahita ringan dalam mempersiapkan hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Dengan memiliki keterampilan anak tunagrahita ringan diharapkan mempunyai kemampuan untuk kehidupannya yang mandiri, sehingga tidak selalu bergantung kepada orang lain. Oleh karena itu pendidikan keterampilan merupakan program pengajaran yang diberikan melalui latihan-latihan yang terencana, bertahap, serius serta terus menerus. Keterampilan menurut Subarnas (2006: 1) sebagai berikut: “Keterampilan merupakan suatu ilmu memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat di dalam berbagai pengalaman apresiasi dan berkreasi untuk menghasilkan suatu produk berupa benda nyata yang bermanfaat langsung bagi kehidupan siswa.”
Sedangkan menurut Astati dan Mulyati (2011: 54) “keterampilan dipersiapkan untuk memiliki bekal pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan praktis untuk memasuki lapangan kerja, lingkupnya meliputi: rekayasa, pertanian, jasa (koperasi dan kerumah tanggaan)”
Sesuai dengan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa pengajaran keterampilan sangat diperlukan oleh anak tunagrahita ringan, karena dengan latihan yang intensif dan pemilihan program yang tepat sesuai kemampuan yang dimiliki anak tunagrahita ringanpun dapat melakukan sampai dengan menghasilkan produk meskipun dengan sedikit pengawasan dan bimbingan serta mempertimbangkan keinginan orang tua    siswa dengan keadaan dilingkungan tempat tinggalnya.
1.     Ruang Lingkup Pelajaran Keterampilan
Ruang lingkup bahan pelajaran keterampilan vokasional untuk SMALB tunagrahita ringan dapat mengacu kepada sekolah disesuaikan dengan potensi daerah, hanya programnya disederhanakan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki anak tunagrahita ringan.
Sedangkan dalam kurikilum 2013 (2014: 60) adalah bidang keterampilan kerja yang dikembangkan oleh sekolah disesuaikan dengan potensi, hambatan dan kebutuhan khusus serta minat dan bakat PDBK. berikut beberapa bidang keterampilan yang dapat dipertimbangkan dan dipilih untuk dibekalkan kepada PDBK:
a.       Teknologi informasi dan komputer
b.      Pariwisata
c.       Tata boga
d.      Tata busana
e.       Tata kecantikan
f.       Masase
g.      Akupuntur
h.      Elektronik
i.        Otomotif
j.        Pertanian
k.      Perikanan
l.        Percetakan
m.    Seni pertunjukan
n.      Seni rupa dan kria
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan pelajaran keterampilan diserahkan kapada masing-masing sekolah disesuaikan dengan potensi daerahnya.
2.      Tujuan  Pendidikan Keterampilan  Anak Tunagrahita Ringan
 Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk mempersiapkan peserta didik mendapatkan pekerjaaan yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
Mempersiapkan berarti proses menanamkan kebiasaan tertentu, yang sesuai dengan kebutuhan anak sehingga menjadi individu yang bahagia. Oleh karena itu pelajaran keterampilan khususnya jenjang SMALB bukanlah melatih siswa dalam pekerjaan khusus, tetapi yang lebih penting adalah mengarahkan siswa untuk dapat menyesuaikan kemampuan dan minatnya untuk dapat menolong dirinya sendiri sehingga dapat mandiri dalam segala aspek kehidupan. Dengan mempunyai bekal keterampilan itu diharapkan anak tunagrahita mendapat pekerjaan yang dapat dijadikan bekal hidup di masyarakat.
Sejalan dengan itu Mainord (1979: 83) yang dikutip Astati (2001: 16) Mengemukakan bahwa “Tujuan pendidikan keterampilan bagi anak tunagrahita ringan adalah mengembangkan keterampilan dan dapat mengadaptasikannya pada suatu pekerjaan”.
Dari pernyataan di atas dapat penulis simpulkan bahwa tujuan pendididkan keterampilan bagi anak tunagrahita ringan adalah mengembangkan keterempilan sesuai dengan kemampuan yang dapat diadaptasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal hidup di masyarakat.
3.        Fungsi
Program keterampilan yang diberikan kepada anak tunagrahita ringan fungsinya adalah:
a.    Meningkatkan harkat dan martabat anak tunagrahita dalam masyarakat.
b.    Menumbuhkan kepercayaan diri sendiri pada anak tunagrahita.
c.    Meningkatkan kemandirian anak tunagrahita.
d.   Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan anak tunagrahita dalam keterampilan khususnya membuat okulasi bunga kertas. (Disdik Provinsi Jawa Barat, 2007: 15)
Jelaslah bahwa fungsi keterampilan di atas adalah agar anak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki untuk dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat. Pengajaran keterampilan sangat diperlukan oleh anak tunagrahita karena pembelajaran keterampilan mengarah kepada tercapainya perkembangan potensi yang optimal. Bidang keterampilan diberikan kepada anak tunagrahita untuk membentuk anak tunagrahita menjadi mandiri.

Okulasi Bunga Kertas (Bougenville)
Okulasi adalah menempelkan tunas suatu pohon (unggulan) ke pohon yang lain yang sejenis dengan maksud untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sebagaimana dikemukakan Margianasari (2012: 22). “Okulasi adalah menempelkan tunas dari pohon kepohon lain yang sejenis untuk menggabungkan 2 sifat tanaman”. Sependapat dengan itu dalam http://syarattumbuh.blogspot.com (/2013/05/15). “Okulasi (menempel, budding; red)  juga  salah  satu  teknik  perbaikan kualitas tanaman secara vegetatif buatan yang dilakukan dengan menempelkan mata tunas dari tanaman yang unggul ke batang tanaman lainnya (Indukan)”
Berdasarkan pengertian di atas okulasi adalah menempelkan tunas pohon unggul yang sejenis ke pohon lainnya (indukan) untuk mendapatkan kualitas hasil yang lebih baik, baik dari warna, variates dan keindahan bentuknya.
Tujuan okulasi adalah menggabungkan dua pohon atau lebih yang sejenis untuk mendapatkan hasil dalam waktu relatif singkat. Redaksi Agro Media (2007: 45) Menyatakan okulasi adalah: Menggabungkan 2 tanaman sejenis yang masing-masing mempunyai sifat berbeda, cara ini dilakukan dengan jalan menggabungakan 2 buah bagian tanaman sejenis yang berbeda sifatnya. Tanaman yang digabungkan harus mempunyai sifat-sifat yang baik. Misalnya, batang tanaman yang memiliki sifat baik digabungkan dengan akar tanaman yang memiliki sifat yang baik digabungkan dengan akar tanaman yang memiliki sifat baik. Hal ini dilakukan dengan cara okulasi.
Beberapa keuntungan mengokulasi adalah memperoleh hasil yang sama-sama dengan sifat induknya dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan. Adapun kerugian mengokulasi adalah batang kurang kokoh karena akar tidak sesuai dengan tanaman baru diperoleh hanya sedikit. Apabila terlalu sering mengokulasi tanaman akan cepat rusak.
Salah satu bentuk keterampilan yang dapat dilakukan oleh anak tunagrahita ringan adalah keterampilan okulasi bunga kertas. Keterampilan okulasi bunga kertas ini merupakan pengetahuan dan keterampilan tentang cara-cara okulasi dengan teknik yang ditentukan sebagai bagian paket kerajinan tangan yang dikembangkan untuk siswa tunagrahita ringan di SMALB dibidang pertanian, yaitu budidaya tanaman hias.

Pengertian Bunga Kertas (Bougenville)
Bunga kertas (bougenville) adalah sejenis bunga yang biasanya di jadikan tanaman hias, karena keindahan warnanya yang bervariatif, sebagaimana dalam http://syarattumbuh.blogspot.com (/2013/05): Bougenville atau kembang kertas, di sebut bunga kertas karena bunga tersebut tipis tampak seperti kertas. Keindahan tanaman ini berasal dari bunganya yang berwarna cerah dan menarik perhatian, karena tumbuh dengan rimbunnya. Tanaman ini sering ditanam di taman dan kawasan perumahan. Pada waktu tanaman ini berbunga, tanaman ini mempunyai kebiasaan merontokkan beberapa daunnya.
Berdasarkan pengertian di atas bunga kertas (bougenville) adalah bunga yang daunnya tumbuh rimbun dan bunganya menyerupai kertas serta warna bunganya cerah, sehingga menarik perhatian ketika bunganya lagi mekar.
Pengertian Okulasi Bunga Bougenville
Pengertian Okulasi bunga kertas adalah “berkreasi dengan memberikan warna bunga dan daun yang berbeda pada sebuah pohon indukan.  Sehingga kalau sedang berbunga, satu pohon bisa beraneka warna daun dan bunga. Sebuah Pohon Bougenville dapat disambung menjadi 5 sampai 6 warna ”(http://syarattumbuh.blogspot.com /2013/05/15)
Okulasi bunga kertas ini biasa terdapat dijual ditempat-tempat penjualan tanaman hias atau tempat wisata. Kini okulasi bunga kertas ini mulai banyak dijual dipinggir-pinggir  jalan raya  seperti  jalan-jalan protokol yang di lewati angkutan antar provinsi atau antar pulau. okulasi bunga kertas atau bougenville mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi, di tempat penjualan tanaman hias harganya bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan disesuaikan dengan jumlah warna dan besar batangnya. proses yang mudah, peralatan sederhana, bahan tersedia dilingkungan sekitara namun diperlukan keuletan, ketelatenan dan kesabaran untuk melakukannya.
1)      Fungsi Okulasi
Fungsi okulasi adalah untuk mendapatakan hasil yang mudah cepat dan penyiapan benih relatif singkat. Fungsi okulasi adalah:
a)    Perbanyakan tanaman
b)   Peroleh tanaman dengan produktifitas  yang tinggi, ada beberapa warna di satu pohon,
c)    Tanaman memiliki sifat yang baru,
d)   Pertumbuhan tanaman yang seragam,
e)    Penyiapan benih relatif singkat, (Marthin (2002: 76).
Fungsi utama okulasi bunga kertas (bougenville) adalah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, waktu singkat dan prodiktifitasnya tinggi.

Pelaksanaan Keterampilan Okulasi Bunga Kertas.
1.    Persiapan
a.    Guru melakukan asesmen kemampuan siswa mengenai keterampilan okulasi bunga kertas.
b.    Penyusunan program keterampilan okulasi bunga kertas dengan membuat tema, silabus rencana program pembelajaran dan evaluasi.
Program okulasi meliputi komponen mengenal bahan, alat dan proses okulasi. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)   Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengoptimalkan kemampuan anak tunagrahita ringan dalam keterampilan okulasi bunga kertas agar peserta didik dapat hidup secara mandiri dan tidak menjadi beban orang lain.
2)   Materi
Materi yang  diberikan  dalam okulasi bunga kertas meliputi dua aspek yaitu: aspek pemahaman dan aspek unjuk kerja. Aspek pemahaman antara  lain: pengenalan alat untuk okulasi, pengenalan  bahan untuk okulasi. Aspek unjuk kerja yaitu mempraktekan proses okulasi.
3)   Metode
Metode yang digunakan dalam pembelajaran okulasi antara lain metode ceramah, demontrasi, tanya jawab, unjuk kerja dan pemberian tugas. Metode ceramah digunakan dalam menjelaskan teori, metode demontrasi dan unjuk kerja digunakan dalam praktek okulasi bunga kertas. Metode yang digunakan untuk setiap peserta didik tidak sama karena disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki setiap peserta didik.
4)   Media
Dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas guru selalu menggunakan alat peraga yang telah disediakan sekolah.
Peralatan yang dipakai pada waktu pembelajaran adalah pisau okulasi, ember sedang dan penanda tumbuh pucuk baru. Bahan yang dibutuhkan batang bunga kertas, tanah gembur, pupuk kandang dan tali rapia bening / plastik es lilin.
5)        Evaluasi
Dalam pemberian evaluasi dari pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas, guru menggunakan tes lisan dan tes perbuatan. Evaluasi diberikan selama proses pembelajaran berlangsung.
2.    Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Kegiatan awal dimulai  dengan mengadakan apersepsi pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas pertemuan sebelumnya, menjelaskan materi pelajaran yang akan diberikan dan mengkondisikan anak untuk belajar keterampilan okulasi bunga kertas.
Kegiatan inti dimulai dengan cara pembuatan yang dimulai dari mengiris batang indukan untuk membuat jendela okulasi, mengiris batang muda untuk mengambil mata entres, menempel mata entres pada jendela okulasi di batang indukan, mengikat mata entres dengan tali rapia putih/plastik es lilin, Menempel label prediksi tumbuh pucuk muda pada mata entres, menyiram hasil okulasi dengan hati-hati tanpa membasahi mata entres, menyimpan hasil okulasi di tempat teduh dan terbuka.
Adapun  hasil yang  diperoleh dari  keterampilan  okulasi  bunga  kertas disimpan di taman sekolah dengan maksud selain untuk keindahan lingkungan juga sebagai informasi/pemasaran hasil dengan memakai label harga atau disimpan di teras di tempat orang tua siswa mobilisasi ketika mengantar dan menjemput putra-putrinya.
Kegiatan akhir mengadakan pengamatan/evaluasi dari hasil keterampilan okulasi bunga kertas dan kesimpulan dari belajar keterampilan okulasi bunga kertas
3.    Tindak Lanjut
Tindak lanjut diberikan dalam bentuk pengulangan, pengayaan dan pengembangan. Pengulangan dilakukan apabila anak belum dapat menyelesaikan evaluasi dengan baik, guru dapat mencari bahan pengajaran yang lebih menarik agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik, pengayaan dilakukan apabila anak dapat menyelesaikan evaluasi dengan baik dan pengembangan okulasi bunga kertas dilakukan apabila anak sudah memasuki tingkat mahir, dengan menambah jenis warna bunga kertas yang di okulasikan ke batang indukan.

Upaya untuk Mengetahui Kemampuan Okulasi Bunga Kertas pada Anak Tunagrahita Ringan Tingkat SMALB

1.    Melaksanakan Asesmen
a.    Pengertian Asesmen
Asesmen adalah proses untuk mengetahui kemampuan anak sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam menentukan pembelajaran. Menurut Lerner (1988:54) dalam Khoeriah (2009: 1) “Asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang seorang anak yang akan di gunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan anak tersebut”. Selanjutnya “Asesmen dalam pendidikan luar biasa melibatkan pengumpulan informasi yang relevan dalam membuat keputusan dalam rangka memilih tujuan dan sarana pembelajaran, strategi pembelajaran dan program penempatan yang tepat”. (Abdurahman, 2003:30).
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen adalah suatu proses untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan strategi pembelajaran dan program penempatan yang tepat yang sesungguhnya dibutuhkan anak.
Berdasarkan informasi itulah seorang guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realistis sesuai dengan kenyataan obyektif dari anak tersebut.
b.      Tujuan dan Fungsi Asesmen
Tujuan asesmen adalah untuk mengetahui kemampuan dan kesulitan anak dalam okulasi bunga kertas (Bougenville) dan program disusun sesuai dengan kemampuan anak. Menurut Soendari (2010: 10) Fungsi asesmen dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, antara lain:
1)   Sebagai alat untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi anak saat itu
2)   sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesunggunya dibutuhkan anak dalam pembelajaran
3)   sebagai dasar bagi seorang guru dalam menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kesulitan yang dihadapi dan sesuai dengan materi yang dibutuhkan anak yang bersangkutan.
Sejalan dengan itu menurut Salvia dan Ysseldyke dalam Khoeriah (2009: 2) “tujuan asesmen dilakukan untuk mendapat lima keperluan, yaitu: penyaringan, pengalih tanganan, klasifikasi, perencanaan pembelajaran dan pemantauan kemajuan belajar anak”.
Berdasarkan pengertian menurut para tokoh di atas tujuan asesmen adalah untuk mengetahui kemampuan awal anak, perencanaan pembelajaran serta sebagai pemantauan kemajuan hasil belajar yang diperolah anak.
c.       Instrumen Asesmen
Rumusan alat asesmen pembelajaran keterampilan mengenai okulasi bunga kertas bagi anak tunagrahita ringan kelas XI yang dibuat secara non-formal oleh guru adalah sebagai berikut:
1)      Mengenal alat keterampilan okulasi bunga kertas
2)      Mengenal bahan keterampilan okulasi bunga kertas
3)      Proses okulasi bunga kertas
4)      Memelihara alat dan bahan keterampilan okulasi bunga kertas
5)      Memelihara hasil keterampilan okulasi bunga kertas
d.      Pelaksanaan Asesmen
1)   Tahap Persiapan
Langkah awal yang dilakukan sebelum melaksanakan asesmen adalah menyusun instrumen asesmen. Instrumen asesmen disusun oleh kepala sekolah dan guru keterampilan kelas XI berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 dikolaborasikan dengan kurikulum tahun 2013.
2)   Tahap Pelaksanaan:
Anak ditanya tentang nama alat dan bahan okulasi bunga kertas dan anak menyiapkan alat, menyiapkan bahan dan melakukan okulasi bunga kertas:
(a)  Anak membuat jendela okulasi
(b)  Anak mengangkat irisan entres dengan pisau
(c)  Anak menempelkan mata entres ke batang indukan
(d)  Anak mengikat mata entres dengan tali plastik/plastik es lilin
(e)  Anak menanamkan indukan di pot tanah campur kompos
(f)  Anak menyediakan air untuk menyiram indukan setelah proses okulasi.
(g) Anak memelihara alat dan bahan serta memelihara hasil setelah proses okulasi selesai.
3)      Kegiatan Akhir
Pada kegiatan akhir guru menenangkan anak, yaitu memberikan waktu untuk istirahat, memberikan hadiah pujian dan peregangan otot-otot agar kembali rilek. Menganalisis hasil okulasi yang telah dilakukan, guru menganalisa pekerjaan anak dalam pelaksanaan okulasi, seperti mengenal bahan, mengenal alat, pelaksanaan okulasi bunga kertas, memelihara bahan, memelihara alat dan memelihara hasil.
2.        Analisis Tugas
a.    Pengertian
                        Analisis tugas digunakan sebagai acuan dalam mengambil keputusan untuk menentukan materi selanjutnya. Wechman dkk (1981:60) menyatakan bahwa: “Analisis tugas adalah upaya mengadakan rincian dari satu keterampilan khusus menjadi langkah-langkah/tugas kecil yang memungkinkan anak mudah mempelajarinya”. (Astati, 2010: 56). Analisis tugas dalam kemampuan okulasi bunga kertas berarti tugas yang dirinci berdasarkan kemampuan dan kondisi anak.
b.      Tujuan
Tujuan analisis tugas adalah agar anak memhami terhadap langkah-langkah dalam keterampilan okulasi bunga kertas, sehingga dapat dirinci sedetail mungkin agar terhindar dari kesalahan, pada akhirnya anak mengerti cara mengoulasi bunga kertas yang benar..
c.       Jenis-jenis Analisis Tugas
Analisis tugas bermacam-macam dan penggunaan tiap jenis sangat tergantung pada karateristik materi pelajaran atau tugas yang akan diajarkan dan kemampuan siswa. Suhaeri (2005:55) mengemukakan ada 3
analisis tugas sesuai sifat tugasnya yaitu: “analisis tugas pecahan, analisis tugas aliran, dan analisis tugas generalisasi”.
Analisis tugas yang digunakan dalam keterampilan okulasi bunga kertas adalah analisis tugas jenis aliran. Disebut aliran karena langkah-langkah yang terdapat di dalamnya harus dilakukan berturut-turut. Langkah-langkah itu dibuat  secara  rinci dari awal sampai akhir dan siswa dilatih dahulu langkah-langkahnya. Tiap langkah harus benar-benar mampu dilakukan dahulu oleh anak dan barulah pindah pada tugas berikutnya.
d.      Pelaksanaa Analisis Tugas
Kegiatan awal pelaksanaan analisis tugas keterampilan  okulasi bunga kertas adalah mengkondisikan anak, berdo’a dan mengadakan apersepsi.
Pelaksanaan pembelajaran meliputi pengenalan alat dan bahan untuk okulasi bunga kertas yaitu guru menunjukkan, menyebutkan, dan membedakan alat dan bahan untuk okulasi bung kertas, demonstrasi cara okulasi bung kertas dimulai dari menyiapkan alat dan bahan, juga memelihara hasil okulasi bung kertas. Kegiatan ini disertai dengan latihan, peragaan dan tanya jawab, dan diharapkan agar siswa dapat memahami materi yang diberikan.
e.       Format Analisis Tugas
Contoh format analisi tugas
Komponen
Uraian
Dpt
Tdk dpt
Dpt dgn bantuan







f.       Kegiatan Akhir
Dalam kegiatan akhir diisi dengan pelaksanaan evaluasi secara lisan dan unjuk kerja terhadap kemampuan yang telah dimiliki siswa dari hasil pembelajaran yang telah diberikan guru, dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana daya serap anak terhadap pelajaran yang telah disampaikan.

Metode Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan, diperlukan suatu metode penelitian yang sesuai dengan masalah yang diteliti untuk menemukan data dan informasi yang dibutuhkan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang di kemukakan Sugiyono (2013:2) bahwa metode penelitian adalah “cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, menurut Sugiyono (2013:230) adalah:
Metode yang dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi sosial tertentu sebagai obyek penelitian. Pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti, maka peneliti melakukan penjelajah umum dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan.
Berdasarkan hal tersebut, metode deskriptif peneliti gunakan dalam penelitian ini yakini untuk meneliti situasi dan kondisi kekinian mengenai kemampuan dalam keterampilan mengenai okulasi bunga kertas (Bougenville) pada anak tunagrahita di SLB Negeri Budi Utama.
Dari kutipan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan kejadian yang sesungguhnya yang terjadi pada saat peneliti sedang melaksanakan penelitian dan tanpa ada unsur rekayasa data.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan kualitatif menurut Sugiyono (2013:14) adalah:
Metode penelitian kualitatif adalah metode yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, bersifat deskriptif analitik, peneliti adalah sebagai instrumen kunci, dan hasil penelitian ini lebih menekankan makna dibanding generalisasi, serta melakukan analisis reflektif terhadap berbagai dokumen yang ditemukan di lapangan.
Jadi yang dimaksud dengan pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan dari sekelompok manusia atau perilaku yang diamati dalam situasi alamiah, dan karena pendekatan ini lebih menekankan pada makna, maka hasil yang diperoleh terasa lebih berarti, terutama untuk merumuskan rencana tindak lanjut.
Sehubungan dengan masalah penelitian ini, maka peneliti mempunyai rencana kerja atau pedoman pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif, di mana yang dikumpulkan berupa pendapat, tanggapan, informasi, konsep-konsep dan keterangan yang berbentuk uraian dalam mengungkapkan masalah.
Dengan menggunakan metode ini, diharapkan dapat mencapai tujuan penelitian sebagaimana yang telah ditetapkan, yaitu untuk mendapatkan data mengenai kemampuan anak tunagrahita ringan dalam pembelajaran keterampilan okulasi bunga kertas (bougenville) di SLB Negeri Budi Utama Kota Cirebon

Pembahasan
Dari hasil penelitian di lapangan penulis mendapat simpulan khusus sebagai berikut:

Kemampuan dalam keterampilan mengenai okulasi bunga kertas
Hasil observasi menunjukkan bahwa anak tunagrahita ringan kelas XI mampu mengenal alat okulasi bunga kertas dengan benar yaitu dengan cara menunjukkan, menyebutkan dan membedakan alat seperti: pisau okulasi/kater dan ember air sedang. Anak juga mampu mengenal bahan untuk okulasi bunga kertas seperti: batang indukan, batang untuk mata entres, tali rapia putih/plastik es lilin, pupuk kandang dan tanah gembur. Sebagian besar langkah-langkah dalam proses okulasi bunga kertas dapat dilakukan oleh anak, seperti: menyiapkan alat dan bahan, memilih batang untuk indukan dan mata entres, menempel mata entres ke jendela okulasi pada batang indukan, mengikat mata entres dengan tali rapia  putih/plastik  es  lilin,  memberi  label  penanda tumbuh tunas baru pada mata entres.
Diakhir proses menyiram dengan air dan kemudian menata dan menyimpan hasil okulasi di taman sekolah dapat dikerjakan sendiri, memelihara alat, bahan dan memelihara hasil bunga kertas mampu melakukannya tanpa bimbingan.

Kesulitan yang dihadapi anak tunagrahita ringan.
Anak mengalami kesulitan dalam proses pelaksanaan okulasi, sebagian anak tidak dapat menyayat batang indukan dan mata entres dikarenakan kulit bunga kertas tipis, mengangkat mata entres dari indukan karena harus sesuai dengan tanda batasan penyayatan pada batang, mengikat mata entres dan menempel penanda tumbuh pucuk baru dengan label perkiraan karena ikatan tidak boleh menutupi mata entres sehingga mengganggu proses tumbuhnya pucuk.

Suasana saat belajar mengenai keterampilan okulasi bunga kertas.
Hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran okulasi bunga kertas dilakukan dengan suasana senang, gembira dan antusias karena anak tunagrahita ringan mampu melakukan okulasi. Meskipun ketika mengalami kesulitan anak sering terlihat diam, murung bahkan menggerutu.
 
Pelaksanaan pembelajaran keterampilan mengenai okulasi bunga kertas.
Berdasarkan deskripsi dan analisis data hasil wawancara kepada guru tentang pelaksanaan pembelajaran keterampilan dalam okulasi bunga kertas, guru melaksanakan asesmen sebelum membuat program dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal anak tunagrahita ringan agar dapat mempersiapkan dan menyesuaikan dengan jenis keterampilan yang akan diberikan, berdo’a, absensi, dan mengkondisikan siswa.
Pada kegiatan inti dilakukan dengan mengenalkan bahan dan alat, langkah-langkah okulasi dan evaluasi selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran (evaluasi proses/kinerja). Pelaksanan okulasi bunga kertas dimulai dari penyayatan indukan dan batang muda, menempel mata entres, mengikat, dan menyimpan di taman sekolah sebagai tempat penyimpanan.
Tindak lanjut dilakukan guru kepada anak dengan memberikan latihan kembali kepada yang belum mampu. Dalam kegiatan pengayaan anak yang sudah mencapai indikator disuruh untuk melakukan sendiri okulasi bunga kertas di rumahnya dengan bekal pengalaman dan latihan yang telah diberikan. Setelah dapat melakukannya sediri, anak diberikan pekerjaan seperti langsung praktek di taman sekolah.

Kesimpulan 
Berikut ini penulis akan mengemukakan kesimpulan yang didasarkan atas teori yang melandasi penelitian ini, dan simpulan khusus yang merupakan simpulan hasil penelitian sebagaimana yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya serta rekomendasi bagi pihak-pihak terkait.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan okulasi bunga kertas pada anak tunagrahita ringan kelas XI di SLB Negeri Budi Utama Kota Cirebon beragam, terutama dalam menunjukkan dan menyebutkan bahan dan alat okulasi bunga kertas (bougenville), proses mengokulasi bunga kertas, memelihara alat dan bahan serta memelihara hasil okulasi bunga kertas (bougenville).

Penutup
Puji serta syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan rahmatnya yang telah penulis rasakan, terutama nikmat sehat dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. penulis telah berusaha semaksimal mungkin dengan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk melaksanakan penelitian, namun penulis merasa kurang dan menyadari bila skripsi ini masih jauh dari sempurna baik dari segi isi maupun sistematika penulisannya. Penulis berharap penulisan hasil penelitian ini memberikan manfaat bagi dunia pendidikan luar biasa sebagai bahan informasi awal dalam upaya meningkatkan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dan terima kasih untuk semuanya atas do’a, kerjasama dan segala bantuan baik moril maupun materi.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman. ( 2003), Pelaksanaan Asesmen. Jakarta:Puspa swara.
Amin, (1995) Ortopedagogik Anak Tunagrahita. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Amin, (1955) Kelainan-kelainan jasmani Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Astati. (1985). Terapi Bermain, Terapi Musik dan Terapi Okupasi Pada Anak Tuna Grahita ; Jakarta; Depdikbud.
Astati. (2001). Persiapan Pekerjaan Penyandang Tunagrahita. Bandung: CV. Pendawa.
Astati, Sri Widati, Tjutju Soendari. (2010) Pembelajaran Kreatif. Bandung: CV Catur Karya Mandiri
Astati & Lis Mulyati. (2010) Pendidikan Anak Tunagrahita. Bandung: CV Catur Karya MandiriDelphi Bandi (2006), Pembalajaran Anak Tunagrahita, Bandung: PT Refika Aditama.
Depdikbud. (1991). Peraturan Pemerintah RI No. 72, Tentang Pendidikan Luar Biasa. Jakarta.
Dinas Pendidikan Nasional. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Jakarta: BP. Dharma Bhakti.
Disdik Provinsi Jawa Barat, (2014). Kurikulum 2013 pedoman pelaksanaan kurikulum bagi peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Bandung: DISDIK JABAR
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2001). Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Jakarta.
Depdikbud. (1994). Peraturan Pemerintah RI No. 72/1991 tentang Pendidikan Luar Biasa. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1991). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas. 2007. Model Pembelajaran Pendidikan Khusus Ringan (C). Tunagrahita Sedang (C1). Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
kurikulum (2006). Kurikulum pendidikan luar biasa. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional
Marhijanto, B.(1991).Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa Kini. CV Terbit  Terang: Surabaya
  Somantri (2006) Karakteristik anak tunagrahita. Bandung. PT. Refika Aditama.
Undang-Undang RI NO. 20 tahun 2003, Tentang sistem Pendidikan Nasional. Media Bandung: Fokus.
Undang-Undang Dasar 1945 dan Perubahannya.(2004). Jakarta. Kawan Pustaka.
Margianasari A.F. (2012) Panduan praktis bertanam buah di lahan dan pot. Bogor: Penebar Swadaya
Nani, M. Euis dan Tjutju, Soendari (2010). Asesmen dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus.Bandung: CV. Catur Karya Mandiri.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung. : CV. Alfabeta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2001). Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  (2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Balai Pustaka.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar